ead KAPHA ACEH: Peduli Gayo

Tampilkan postingan dengan label Peduli Gayo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peduli Gayo. Tampilkan semua postingan

Kamis, Juli 11, 2013

Cerita gempa Gayo ( The Atjeh Times )

Foto paska gempa gayo www.atjehpost.com

PEMANDANGAN itu begitu menggetarkan: separuh isi Kampung Serempah, Ketol, Aceh Tengah, amblas ditelan bumi. Desa di atas bukit itu terkoyak, lalu runtuh. Di bagian atas, kini membentang sebuah tebing baru. Padahal, dulunya di sana berdiri rumah-rumah warga. Di bibir tebing baru itu, sebuah rumah tinggal separuh: tiang berandanya menggantung di bibir tebing, sementara ruang tamunya masih utuh mencengkeram tanah.

Nun di bawah sana potongan atap rumah tertahan di kemiringan tebing. Di sekelilingnya peralatan rumah tangga sebagian terkubur tanah. Bila dilihat dari arah berseberangan, tebing tadi bak sisi sebuah kuali yang diameternya mencapai satu kilometer. Sebuah lubang besar kini telah terbentuk di Kampung Serempah.

Serempah adalah salah satu daerah terparah menerima dampak gempa Selasa siang pekan lalu. Kampung di daerah penghasil tebu itu berjarak sekitar 30 kilometer dari Takengon, Ibu Kota Aceh Tengah. Berada tak jauh dari Krueng Peusangan, kampung itu lebih tinggi dari permukaan sungai. Camat Ketol, M. Saleh, Rabu pekan lalu mengatakan, saat longsor terjadi, air sungai juga menyapu rumah-rumah warga yang amblas ke sisi tebing.

Tim Brimob Polda Aceh yang datang membantu evakuasi para korban ternganga setiba di sana. “Desa itu terbelah, sebagian rumah penduduk di Serempah sudah ditelan bumi. Nggak nampak lagi rumahnya,” ujar Komandan Kompi 4 Detasemen B Brimob Polda Aceh, Inspektur Satu Iswahyudi kepada The Atjeh Times, Rabu pekan lalu.

Tim Brimob sudah berupaya memasuki desa itu sejak hari pertama bencana. Namun karena lokasi terhadang longsor, mereka baru tiba di Serempah pada Rabu pagi. Tim lalu mengevakuasi sebagian warga yang selamat ke posko pengungsian di Blang Mancung dan Kute Gelime, Kecamatan Ketol.

Gempa tak hanya mengguncang Aceh Tengah, tapi juga merontokkan sejumlah bangunan di kabupaten sebelahnya, Bener Meriah. Lokasi kedua kabupaten ini dekat dengan titik gempa.

Hingga Kamis pekan lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB melansir jumlah korban meninggal dunia mencapai 35 orang: 9 orang di Bener Meriah dan 26 orang di Aceh Tengah. Selain itu ratusan orang luka-luka dan sejumlah bangunan rusak.

Korban meninggal ada yang tertimbun longsor bahkan tertimpa bangunan. Kini korban dirawat di beberapa rumah sakit dan Puskesmas di kedua kabupaten itu. Di Rumah Sakit Umum Datu Beru Takengon, yang juga terkena dampak gempa, pasien bahkan harus dirawat di lorong-lorong rumah sakit. Ada juga korban yang dirujuk ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh. Umumnya korban patah tulang.

***


BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mencatat, gempa yang terjadi pukul 14.37 WIB itu adalah jenis gempa darat. Meski “hanya” berkekuatan 6,2 skala richter, gempa itu menimbulkan kerusakan karena kedalamannya hanya 10 kilometer di bawah permukaan bumi.

Gempa darat berbeda dengan gempa yang terjadi saat gempa dan tsunami menewaskan ratusan ribu orang pada 26 Desember 2004. Gempa di dataran tinggi Gayo ini, serupa dengan yang terjadi di Mane, Tangse, awal Januari lalu.

Peneliti Geo Hazard Tsunami & Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Unsyiah, Ibnu Rusdy mengatakan, saat tsunami gempanya bersumber di laut. Sedangkan yang terjadi di Tangse dan Bener Meriah, bersumber di darat dan berada di segmen Aceh dari Sesar Sumatera.

Untuk kawasan Aceh, kata Ibnu, terdapat tiga Segmen Sesar Sumatera, di antaranya Segmen Tripa, Segmen Aceh, dan Segmen Seulimum.

Menurut Ibnu, sejak 1892 telah terjadi 23 kali gempa darat atau sesar di atas 6Mw di sepanjang Sesar Sumatera. Pada Segmen Seulimum, kata Ibnu, pernah terjadi gempa pada 1964 dan 1975, sedangkan untuk segmen Aceh, kata dia, sangat jarang terjadi.

Ketika terjadi gempa Tangse awal Januari lalu, kata Ibnu, di sepanjang Sesar Sumatera saat ini ada beberapa seismic gap atau kawasan yang jarang terjadi gempa. “Untuk segmen Aceh tidak pernah terjadinya gempa ini harus kita waspadai karena pada segmen ini ada energi yang belum lepas.”

Peneliti Geo Hazard TDMRC Unsyiah yang lain, Didik Sugiyanto mengatakan, sepanjang Sumatera, mulai dari Banda Aceh sampai Lampung, terdapat patahan atau rekahan yang mengalami pergeseran berkisar mulai dari beberapa milimeter hingga ratusan meter.

Menurut Didik, patahan Sumatera yang oleh beberapa ahli dibagi kepada 19 segmen mempunyai banyak sumber gempa. Faktornya karena posisinya dekat dengan jalur tabrakan dua lempeng bumi, yaitu lempeng samudera dan lempeng benua.

Lempeng samudera menujam ke lempeng benua. Bagian lempeng ini merekat kuat pada bebatuan. Penambahan tekanan dari waktu ke waktu, kata Didik, bakal melampaui daya rekat kedua lempeng itu.

“Ibarat pegas raksasa yang sudah ditekan maksimal dan kemudian dilepaskan akan menyebabkan guncangan bumi yang keras,” ujar Didik kepada The Atjeh Times, Jumat pekan lalu.

Gempa Gayo, kata Didik, walaupun secara magnitude kecil, tetapi karena kedalamannya yang dangkal telah menyebabkan banyak terjadi kerusakan. Ditambah lagi dengan struktur tanah yang relatif lunak sehingga gempa mengakibatkan longsor seperti di Kampung Serempah. “Struktur batuan di permukaan yang keras sedikit banyaknya bisa meredam goyangan dari gempa itu sendiri, dan begitu juga sebaliknya,” katanya.

Berpijak dari sini, Didik berpendapat pada hakikatnya gempa terjadi secara alamiah, tetapi yang kerap memakan korban adalah struktur bangunan. Sebagai bentuk antisipasi, ia menyarankan adanya sosialisasi struktur bangunan sesuai dengan daerah rawan potensi gempa.

Apalagi, kata Didik, selain tiga segmen di Aceh, masih ada patahan-patahan kecil yang belum terdeteksi dengan baik. “Namun untuk memastikan secara detail, mesti diadakan penelitian lebih lanjut.”

***

WAKIL Bupati Aceh Tengah Khairul Asmara mengatakan, Ketol salah satu lokasi terparah dampak gempa. Ketol memiliki kampung antara lain Bah, Belang Mancung, Bintang Pepara, Burlah, Butter, Cang Duri, Gelumpang Paying, Kala Ketol, Karang Ampar, Kekuyang, Kute Gelime, Pantan Penyi, Pantan Reduk, Pondok Balik, Rejewali, dan Serempah.

Dulu Ketol hanyalah sebuah dusun yang berada dalam lingkaran Kecamatan Silih Nara. Kecamatan ini merupakan kawasan pegunungan dan lembah yang dipenuhi berbagai tanaman kopi, padi, tebu, dan aneka sayuran. Seorang seniman Gayo, Syech Midin, bahkan menciptakan lagu berjudul Silih Nara untuk menggambarkan keindahan tempat itu.

Di dalam administrasi Silih Nara terdapat beberapa perkampungan "kaya" di Aceh Tengah, seperti Lukup Sabun, Belang mancung, Angkup, dan Celala. Dari desa terakhir ini ada jalan yang bisa tembus menuju Nagan Raya.

Ketol lalu dimekarkan menjadi kecamatan. Pada awal 1980-an, Ketol menjadi primadona ekonomi. Di kawasan ini berdiri pabrik tebu bernama Pabrik Gula Mini. Peresmian pabrik yang berada di perbatasan Aceh Tengah dan Bener Meriah ini, dilakukan Presiden Soeharto. Hasilnya, kawasan ini pun terkenal sebagai kota tebu.

Namun pabrik hanya bertahan beberapa tahun. Produksi gula putihnya kalah pamor dibandingkan gula pasir yang diproduksi di Medan, Sumatera Utara. Pabrik pun tutup.

Namun petani tebu tetap berjaya. Mereka bisa menjual tebu ke Medan atau mengolahnya menjadi gula merah. Ketol tetap menjadi pemasok Pendapatan Asli Daerah terbesar dari seluruh kecamatan di Aceh Tengah.

***

HINGGA hari ketiga pascagempa Jumat pekan lalu, solidaritas mengalir ke Gayo. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan instansi terkait untuk mengupayakan penyelamatan korban gempa.

Presiden juga menyampaikan, satu helikopter TNI Angkatan Udara yang semula dipakai untuk operasi asap di Pekanbaru telah dialihkan ke Aceh untuk keperluan penanggulangan bencana.

Dua menteri juga bergerak menuju Bener Meriah dan Aceh Tengah. Mereka adalah Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dan Menteri Sosial Salim Segal Al Jufri. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Syamsul Maarif juga ikut serta.

Kepada pengungsi, Agung Laksono mengatakan untuk tidak ragu meminta bantuan medis jika ada yang menderita luka karena semua biaya ditanggung pemerintah. "Pemerintah akan tetap membantu masyarakat. Yang penting masyarakat jangan panik," kata Agung Laksono.

Ia juga meminta Dinas Sosial Aceh untuk segera mengganti tenda terpal yang dipakai masyarakat dengan tenda yang layak yang dimiliki Dinas Sosial Aceh.

Dari ibu kota provinsi yang berjarak sekitar tujuh jam perjalanan dengan mobil, Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan sejumlah pimpinan legislatif Aceh juga berkunjung ke Gayo. Gubernur menetapkan status darurat kemanusiaan, meminta aparatur pemerintah bahu-membahu membantu korban gempa.

Selain itu, berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa juga membuka posko untuk mengumpulkan bantuan ke Gayo. Kamis pekan lalu misalnya, Aliansi Remaja Peduli Gayo di Lhokseumawe menggelar orkes puisi jalanan di Taman Riyadhah. Aliansi ini terdiri dari Komunitas Lazuardi, Aliansi Peduli HIV/AIDS, Club 25, Teater Pasee Unimal, dan komunitas lainnya.

Selain membaca puisi, Aliansi juga memainkan rapa-i diiringi teatrikal seorang peraga yang tubuhnya dicat warna hitam dan putih. Ia juga ikut meminta sumbangan dari setiap warga yang datang ke Taman Riyadhah dan yang melintas depan taman tersebut.

“Kami ingin melakukan penggalangan dana dengan cara berbeda melalui orkes puisi jalanan ini. Menjual jasa kami dengan cara membaca puisi, sambil memohon bantuan sekaligus menghibur warga. Ini wujud solidaritas kami,” ujar Dara, koordinator pelaksana.

Aksi berlangsung satu jam. Sebelum membaca puisi, mereka menggalang dana dengan cara mendatangi rumah penduduk, perkantoran, perbankan, serta pertokoan di Lhokseumawe. Dana yang terkumpul akan disalurkan ke lokasi bencana. Selain uang, mereka juga menerima bantuan buku tulis, bacaan, serta pakaian layak pakai. “Harapan kami mudah-mudahan semua ini bermanfaat dan bisa membantu korban yang tertimpa musibah di sana,” ujar Dara.

Aksi galang buku juga dilakukan Toko Gudang Buku di Darussalam, Banda Aceh. Pemilik Gudang Buku, Arabiyani, mengatakan lelang buku dilakukan dengan dua cara. Pertama, buku akan diunggah ke laman Facebook Gudang Buku Murah Mantab.

Para pembeli bisa langsung bertransaksi dengan membubuhkan komentar pada gambar buku dengan label khusus. “Mereka yang menawar dengan harga tertinggi pada setiap bukunya, maka dia berhak mendapatkan buku setelah terlebih dahulu membayar," ujar Arabiyani kepada The Atjeh Times, Jumat pekan lalu.

Sedangkan cara pelelangan yang kedua, para mahasiswa bersama relawan KontraS Aceh dan anggota Komunitas Gudang Buku akan membuka tenda di depan toko. Dalam acara itu akan dilakukan pementasan musik untuk menarik minat para peserta lelang.

Selain itu, para pedagang kecil di Banda Aceh yang tergabung dalam Persatuan Persaudaraan Pedagang Pasar Aceh juga tak mau ketinggalan. Mereka ikut membuka posko bantuan di beberapa pasar di Banda Aceh. Posko dibuka sejak Kamis pekan lalu. Para pedagang pasar Aceh ini mengajak pedagang dan masyarakat menyumbang dalam bentuk logistik, barang, ataupun uang.

Bantuan juga disalurkan Rumah Zakat Cabang Aceh. Lembaga ini membawa 500 paket kornet Superqurban untuk korban gempa. Selain itu, mereka juga menyalurkan 50 pak pampers, 50 kilogram gula, empat lusin salap gatal, dan minyak kayu putih. “Kami juga menyalurkan 50 kaleng susu kental manis dan 50 kelambu,” ujar Branch Manager Rumah Zakat Aceh, Riadhi.

Komite Peralihan Aceh dan Partai Aceh juga membentuk tim relawan untuk diterjunkan ke lokasi bencana di Bener Meriah dan Aceh Tengah. “Mereka kita tugaskan untuk menolong korban dan membawa bantuan,” kata Wakil Ketua Umum Partai Aceh, Kamaruddin Abubakar, yang akrab disapa Aburazak.

Menurut Aburazak, seluruh jaringan KPA dan PA di seluruh daerah Aceh sudah dikontak untuk turun tangan membantu musibah gempa yang menelan korban puluhan jiwa dan ratusan luka-luka itu. “Nanti KPA yang menjadi motor penggerak untuk ke lapangannya,” ujar Aburazak.

Hingga Jumat pekan lalu, ada beberapa daerah yang terkena gempa belum mendapatkan bantuan, misalnya korban gempa di Desa Ratawali Kecamatan Kute Panang, Aceh Tengah. Sejak hari pertama bencana, mereka belum mendapatkan bantuan apa pun. “Saat ini yang kami butuh adalah beras, stok beras kami sudah habis," ujar seorang warga Ratawali, Kleton.

Selain beras, kata dia, warga di Ratawali juga membutuhkan air bersih, logistik makanan, dan tenda. "Saat ini kami tinggal di depan rumah masing-masing dengan tenda darurat."

***


JUMAT sore pekan lalu, jalan menuju Kampung Serempah di Ketol sudah ditutup. Fotografer The Atjeh Times di lokasi bencana, Khairi Tuah Miko melaporkan, alasan pemerintah setempat menutup akses untuk menghindari penjarahan.

Sebagian besar warga belum mengambil harta benda mereka yang tertimbun di bawah reruntuhan rumah. Lagi pula, tak jauh dari tebing itu, retakan-retakan kecil mulai menjalar. Serempah kini tak layak lagi huni. Satu kampung terhapus dari peta Aceh tengah. Daerah penghasil kopi yang produknya dipakai gerai waralaba kopi dunia Starbuck itu kini sedang berduka. Ladang-ladang kopi kini sepi, seolah tak bertuan. []
Sumber : www.atjehpost.com/The Atjeh Times

Cerita awal paska gempa Gayo 3

Foto : www.atjehpost.com

COPAS

WAKIL Bupati Aceh Tengah Khairul Asmara mengatakan, Ketol salah satu lokasi terparah dampak gempa. Ketol memiliki kampung antara lain Bah, Belang Mancung, Bintang Pepara, Burlah, Butter, Cang Duri, Gelumpang Paying, Kala Ketol, Karang Ampar, Kekuyang, Kute Gelime, Pantan Penyi, Pantan Reduk, Pondok Balik, Rejewali, dan Serempah.

Dulu Ketol hanyalah sebuah dusun yang berada dalam lingkaran Kecamatan Silih Nara. Kecamatan ini merupakan kawasan pegunungan dan lembah yang dipenuhi berbagai tanaman kopi, padi, tebu, dan aneka sayuran. Seorang seniman Gayo, Syech Midin, bahkan menciptakan lagu berjudul Silih Nara untuk menggambarkan keindahan tempat itu.

Di dalam administrasi Silih Nara terdapat beberapa perkampungan "kaya" di Aceh Tengah, seperti Lukup Sabun, Belang mancung, Angkup, dan Celala. Dari desa terakhir ini ada jalan yang bisa tembus menuju Nagan Raya.

Ketol lalu dimekarkan menjadi kecamatan. Pada awal 1980-an, Ketol menjadi primadona ekonomi. Di kawasan ini berdiri pabrik tebu bernama Pabrik Gula Mini. Peresmian pabrik yang berada di perbatasan Aceh Tengah dan Bener Meriah ini, dilakukan Presiden Soeharto. Hasilnya, kawasan ini pun terkenal sebagai kota tebu.

Namun pabrik hanya bertahan beberapa tahun. Produksi gula putihnya kalah pamor dibandingkan gula pasir yang diproduksi di Medan, Sumatera Utara. Pabrik pun tutup.

Namun petani tebu tetap berjaya. Mereka bisa menjual tebu ke Medan atau mengolahnya menjadi gula merah. Ketol tetap menjadi pemasok Pendapatan Asli Daerah terbesar dari seluruh kecamatan di Aceh Tengah.

***

HINGGA hari ketiga pascagempa Jumat pekan lalu, solidaritas mengalir ke Gayo. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan instansi terkait untuk mengupayakan penyelamatan korban gempa.

Presiden juga menyampaikan, satu helikopter TNI Angkatan Udara yang semula dipakai untuk operasi asap di Pekanbaru telah dialihkan ke Aceh untuk keperluan penanggulangan bencana.

Dua menteri juga bergerak menuju Bener Meriah dan Aceh Tengah. Mereka adalah Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dan Menteri Sosial Salim Segal Al Jufri. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional Syamsul Maarif juga ikut serta.

Kepada pengungsi, Agung Laksono mengatakan untuk tidak ragu meminta bantuan medis jika ada yang menderita luka karena semua biaya ditanggung pemerintah. "Pemerintah akan tetap membantu masyarakat. Yang penting masyarakat jangan panik," kata Agung Laksono.

Ia juga meminta Dinas Sosial Aceh untuk segera mengganti tenda terpal yang dipakai masyarakat dengan tenda yang layak yang dimiliki Dinas Sosial Aceh.






Dari ibu kota provinsi yang berjarak sekitar tujuh jam perjalanan dengan mobil, Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan sejumlah pimpinan legislatif Aceh juga berkunjung ke Gayo. Gubernur menetapkan status darurat kemanusiaan, meminta aparatur pemerintah bahu-membahu membantu korban gempa.

Selain itu, berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa juga membuka posko untuk mengumpulkan bantuan ke Gayo. Kamis pekan lalu misalnya, Aliansi Remaja Peduli Gayo di Lhokseumawe menggelar orkes puisi jalanan di Taman Riyadhah. Aliansi ini terdiri dari Komunitas Lazuardi, Aliansi Peduli HIV/AIDS, Club 25, Teater Pasee Unimal, dan komunitas lainnya.

Selain membaca puisi, Aliansi juga memainkan rapa-i diiringi teatrikal seorang peraga yang tubuhnya dicat warna hitam dan putih. Ia juga ikut meminta sumbangan dari setiap warga yang datang ke Taman Riyadhah dan yang melintas depan taman tersebut.

“Kami ingin melakukan penggalangan dana dengan cara berbeda melalui orkes puisi jalanan ini. Menjual jasa kami dengan cara membaca puisi, sambil memohon bantuan sekaligus menghibur warga. Ini wujud solidaritas kami,” ujar Dara, koordinator pelaksana.

Aksi berlangsung satu jam. Sebelum membaca puisi, mereka menggalang dana dengan cara mendatangi rumah penduduk, perkantoran, perbankan, serta pertokoan di Lhokseumawe. Dana yang terkumpul akan disalurkan ke lokasi bencana. Selain uang, mereka juga menerima bantuan buku tulis, bacaan, serta pakaian layak pakai. “Harapan kami mudah-mudahan semua ini bermanfaat dan bisa membantu korban yang tertimpa musibah di sana,” ujar Dara.

Aksi galang buku juga dilakukan Toko Gudang Buku di Darussalam, Banda Aceh. Pemilik Gudang Buku, Arabiyani, mengatakan lelang buku dilakukan dengan dua cara. Pertama, buku akan diunggah ke laman Facebook Gudang Buku Murah Mantab.

Para pembeli bisa langsung bertransaksi dengan membubuhkan komentar pada gambar buku dengan label khusus. “Mereka yang menawar dengan harga tertinggi pada setiap bukunya, maka dia berhak mendapatkan buku setelah terlebih dahulu membayar," ujar Arabiyani kepada The Atjeh Times, Jumat pekan lalu.

Sedangkan cara pelelangan yang kedua, para mahasiswa bersama relawan KontraS Aceh dan anggota Komunitas Gudang Buku akan membuka tenda di depan toko. Dalam acara itu akan dilakukan pementasan musik untuk menarik minat para peserta lelang.

Selain itu, para pedagang kecil di Banda Aceh yang tergabung dalam Persatuan Persaudaraan Pedagang Pasar Aceh juga tak mau ketinggalan. Mereka ikut membuka posko bantuan di beberapa pasar di Banda Aceh. Posko dibuka sejak Kamis pekan lalu. Para pedagang pasar Aceh ini mengajak pedagang dan masyarakat menyumbang dalam bentuk logistik, barang, ataupun uang.

Bantuan juga disalurkan Rumah Zakat Cabang Aceh. Lembaga ini membawa 500 paket kornet Superqurban untuk korban gempa. Selain itu, mereka juga menyalurkan 50 pak pampers, 50 kilogram gula, empat lusin salap gatal, dan minyak kayu putih. “Kami juga menyalurkan 50 kaleng susu kental manis dan 50 kelambu,” ujar Branch Manager Rumah Zakat Aceh, Riadhi.

Komite Peralihan Aceh dan Partai Aceh juga membentuk tim relawan untuk diterjunkan ke lokasi bencana di Bener Meriah dan Aceh Tengah. “Mereka kita tugaskan untuk menolong korban dan membawa bantuan,” kata Wakil Ketua Umum Partai Aceh, Kamaruddin Abubakar, yang akrab disapa Aburazak.

Menurut Aburazak, seluruh jaringan KPA dan PA di seluruh daerah Aceh sudah dikontak untuk turun tangan membantu musibah gempa yang menelan korban puluhan jiwa dan ratusan luka-luka itu. “Nanti KPA yang menjadi motor penggerak untuk ke lapangannya,” ujar Aburazak.

Hingga Jumat pekan lalu, ada beberapa daerah yang terkena gempa belum mendapatkan bantuan, misalnya korban gempa di Desa Ratawali Kecamatan Kute Panang, Aceh Tengah. Sejak hari pertama bencana, mereka belum mendapatkan bantuan apa pun. “Saat ini yang kami butuh adalah beras, stok beras kami sudah habis," ujar seorang warga Ratawali, Kleton.

Selain beras, kata dia, warga di Ratawali juga membutuhkan air bersih, logistik makanan, dan tenda. "Saat ini kami tinggal di depan rumah masing-masing dengan tenda darurat."

***


JUMAT sore pekan lalu, jalan menuju Kampung Serempah di Ketol sudah ditutup. Fotografer The Atjeh Times di lokasi bencana, Khairi Tuah Miko melaporkan, alasan pemerintah setempat menutup akses untuk menghindari penjarahan.

Sebagian besar warga belum mengambil harta benda mereka yang tertimbun di bawah reruntuhan rumah. Lagi pula, tak jauh dari tebing itu, retakan-retakan kecil mulai menjalar. Serempah kini tak layak lagi huni. Satu kampung terhapus dari peta Aceh tengah. Daerah penghasil kopi yang produknya dipakai gerai waralaba kopi dunia Starbuck itu kini sedang berduka. Ladang-ladang kopi kini sepi, seolah tak bertuan. []Sumber : www.atjehpost.com

Cerita awal paska gempa gayo 2

Foto : www.atjehpost.com

COPAS
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mencatat, gempa yang terjadi pukul 14.37 WIB itu adalah jenis gempa darat. Meski “hanya” berkekuatan 6,2 skala richter, gempa itu menimbulkan kerusakan karena kedalamannya hanya 10 kilometer di bawah permukaan bumi.

Gempa darat berbeda dengan gempa yang terjadi saat gempa dan tsunami menewaskan ratusan ribu orang pada 26 Desember 2004. Gempa di dataran tinggi Gayo ini, serupa dengan yang terjadi di Mane, Tangse, awal Januari lalu.

Peneliti Geo Hazard Tsunami & Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Unsyiah, Ibnu Rusdy mengatakan, saat tsunami gempanya bersumber di laut. Sedangkan yang terjadi di Tangse dan Bener Meriah, bersumber di darat dan berada di segmen Aceh dari Sesar Sumatera.

Untuk kawasan Aceh, kata Ibnu, terdapat tiga Segmen Sesar Sumatera, di antaranya Segmen Tripa, Segmen Aceh, dan Segmen Seulimum.

Menurut Ibnu, sejak 1892 telah terjadi 23 kali gempa darat atau sesar di atas 6Mw di sepanjang Sesar Sumatera. Pada Segmen Seulimum, kata Ibnu, pernah terjadi gempa pada 1964 dan 1975, sedangkan untuk segmen Aceh, kata dia, sangat jarang terjadi.

Ketika terjadi gempa Tangse awal Januari lalu, kata Ibnu, di sepanjang Sesar Sumatera saat ini ada beberapa seismic gap atau kawasan yang jarang terjadi gempa. “Untuk segmen Aceh tidak pernah terjadinya gempa ini harus kita waspadai karena pada segmen ini ada energi yang belum lepas.”

Peneliti Geo Hazard TDMRC Unsyiah yang lain, Didik Sugiyanto mengatakan, sepanjang Sumatera, mulai dari Banda Aceh sampai Lampung, terdapat patahan atau rekahan yang mengalami pergeseran berkisar mulai dari beberapa milimeter hingga ratusan meter.

Menurut Didik, patahan Sumatera yang oleh beberapa ahli dibagi kepada 19 segmen mempunyai banyak sumber gempa. Faktornya karena posisinya dekat dengan jalur tabrakan dua lempeng bumi, yaitu lempeng samudera dan lempeng benua.

Lempeng samudera menujam ke lempeng benua. Bagian lempeng ini merekat kuat pada bebatuan. Penambahan tekanan dari waktu ke waktu, kata Didik, bakal melampaui daya rekat kedua lempeng itu.

“Ibarat pegas raksasa yang sudah ditekan maksimal dan kemudian dilepaskan akan menyebabkan guncangan bumi yang keras,” ujar Didik kepada The Atjeh Times, Jumat pekan lalu.

Gempa Gayo, kata Didik, walaupun secara magnitude kecil, tetapi karena kedalamannya yang dangkal telah menyebabkan banyak terjadi kerusakan. Ditambah lagi dengan struktur tanah yang relatif lunak sehingga gempa mengakibatkan longsor seperti di Kampung Serempah. “Struktur batuan di permukaan yang keras sedikit banyaknya bisa meredam goyangan dari gempa itu sendiri, dan begitu juga sebaliknya,” katanya.

Berpijak dari sini, Didik berpendapat pada hakikatnya gempa terjadi secara alamiah, tetapi yang kerap memakan korban adalah struktur bangunan. Sebagai bentuk antisipasi, ia menyarankan adanya sosialisasi struktur bangunan sesuai dengan daerah rawan potensi gempa.

Apalagi, kata Didik, selain tiga segmen di Aceh, masih ada patahan-patahan kecil yang belum terdeteksi dengan baik. “Namun untuk memastikan secara detail, mesti diadakan penelitian lebih lanjut.”() Sumber ; www.atjehpost.com

Cerita awal paska Gempa Gayo

Foto : Miko/www.atjehpost.com

COPAS

PEMANDANGAN itu begitu menggetarkan: separuh isi Kampung Serempah, Ketol, Aceh Tengah, amblas ditelan bumi. Desa di atas bukit itu terkoyak, lalu runtuh. Di bagian atas, kini membentang sebuah tebing baru. Padahal, dulunya di sana berdiri rumah-rumah warga. Di bibir tebing baru itu, sebuah rumah tinggal separuh: tiang berandanya menggantung di bibir tebing, sementara ruang tamunya masih utuh mencengkeram tanah.

Nun di bawah sana potongan atap rumah tertahan di kemiringan tebing. Di sekelilingnya peralatan rumah tangga sebagian terkubur tanah. Bila dilihat dari arah berseberangan, tebing tadi bak sisi sebuah kuali yang diameternya mencapai satu kilometer. Sebuah lubang besar kini telah terbentuk di Kampung Serempah.

Serempah adalah salah satu daerah terparah menerima dampak gempa Selasa siang pekan lalu. Kampung di daerah penghasil tebu itu berjarak sekitar 30 kilometer dari Takengon, Ibu Kota Aceh Tengah. Berada tak jauh dari Krueng Peusangan, kampung itu lebih tinggi dari permukaan sungai. Camat Ketol, M. Saleh, Rabu pekan lalu mengatakan, saat longsor terjadi, air sungai juga menyapu rumah-rumah warga yang amblas ke sisi tebing.

Tim Brimob Polda Aceh yang datang membantu evakuasi para korban ternganga setiba di sana. “Desa itu terbelah, sebagian rumah penduduk di Serempah sudah ditelan bumi. Nggak nampak lagi rumahnya,” ujar Komandan Kompi 4 Detasemen B Brimob Polda Aceh, Inspektur Satu Iswahyudi kepada The Atjeh Times, Rabu pekan lalu.

Tim Brimob sudah berupaya memasuki desa itu sejak hari pertama bencana. Namun karena lokasi terhadang longsor, mereka baru tiba di Serempah pada Rabu pagi. Tim lalu mengevakuasi sebagian warga yang selamat ke posko pengungsian di Blang Mancung dan Kute Gelime, Kecamatan Ketol.

Gempa tak hanya mengguncang Aceh Tengah, tapi juga merontokkan sejumlah bangunan di kabupaten sebelahnya, Bener Meriah. Lokasi kedua kabupaten ini dekat dengan titik gempa.

Hingga Kamis pekan lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB melansir jumlah korban meninggal dunia mencapai 35 orang: 9 orang di Bener Meriah dan 26 orang di Aceh Tengah. Selain itu ratusan orang luka-luka dan sejumlah bangunan rusak.

Korban meninggal ada yang tertimbun longsor bahkan tertimpa bangunan. Kini korban dirawat di beberapa rumah sakit dan Puskesmas di kedua kabupaten itu. Di Rumah Sakit Umum Datu Beru Takengon, yang juga terkena dampak gempa, pasien bahkan harus dirawat di lorong-lorong rumah sakit. Ada juga korban yang dirujuk ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh. Umumnya korban patah tulang.() Sumber : www.atjehpost.com

Rabu, Juli 10, 2013

Ini keperluan terkini anak-anak korban gempa Gayo


ANAK-anak di Posko Blang Gele Kecamatan Berbesan Kabupaten Aceh Tengah memerlukan susu, pampers, bahan bacaan, iqra' dan Al Qur'an. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Desa Blang Gele, Asprino kepada KAPHA NEWS dilokasi, Rabu, 10 Juli 2013.

"Kita memiliki 150 anak-anak dan saat ini sanga membutuhkan susu, pampers dan untuk mendukung kegiatan ramadhan, iqra' dan Al Qur'an juga sangat diperlukan," kata Asprino.

Barang-barang tersebut menurut Asprino akan meringankan masayarakat dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Menurutnya jika ada relawan yang akan berangkat ke takengon dapat membawa barang yang disebutkannya.

Paska gempa 6,2 SR 2 Juli lalu, masyarakat Aceh Tengah dan Bener Meriah masih banyak yang berada ditenda pengungsian dan masih memerlukan bantuan. Informasi yang dihimpun tenaga medis juga sangat diperlukan disana untuk segera didatangkan.() IMF.

Senin, Juli 08, 2013

Ini Kecamatan Bener Meriah yang terparah dilanda gempa

Foto : Miko www.atjehpost.com

COPAS
BEBERAPA kecamatan di Bener Meriah menjadi titik lokasi terparah gempa 6,2 Skala Richter pada Selasa 2 Juli 2013 lalu. Humas Posko Bener Meriah Mukhtar mengatakan, kecamatan-kecamatan itu adalah Timang Gajah, Pintu Rime Gayo, Wih Pesam, dan Gajah Putih.

"Kalau kecamatan lain seperti Bukit, Bandar, dan Permata hanya sebagian kecil yang merasakan dampak gempa," ujar Mukhtar kepada ATJEHPOSTcom, Senin 8 Juli 2013.

Selasa besok, 9 Juli 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan meninjau dampak gempa di Bener Meriah. Jadwal baru itu disampaikan lewat akun twitter presiden @SBYudhoyono pada Minggu sore, 7 Juli. "Presiden SBY pelajari laporan gempa Aceh. Pd 9 Juli 2013, beliau akan tinjau pusat bencana di Kab Bener Meriah, Aceh."

Bener Meriah kabupaten hasil pemekaran dari Aceh Tengah. Bener Meriah memiliki 10 kecamatan. Ibu kota Bener Meriah adalah Simpang Tiga Redelong.() Sumber : www.atjehpost.com

Pemko Banda Aceh galang dana untuk korban Gempa Gayo


COPAS

PEMERINTAH Kota (Pemko) Banda Aceh melakukan penggalangan dana untuk membantu korban gempa Gayo. Kegiatan penggalangan dana tersebut dilakukan dengan meminta sumbangan se-ikhlas mungkin dari para Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkup Pemko Banda Aceh.

Kepala Bagian Humas Sekretaris Daerah (Setda) Pemko Banda Aceh, Marwan, mengatakan kegiatan penggalangan dana tersebut dengan membuka posko di kantor Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aset Daerah (DPKKAD) Kota Banda Aceh.

“Sistem penggalangannya dilakukan berupa sumbangan dari pegawai Pemko di setiap dinas atau instansi, hasil yang terkumpul diantar ke posko,” kata Marwan kepada ATJEHPOSTcom, Senin, 8 Juli 2013.

Saat ini, kata dia, penggalangan dana sedang terus dilakukan. Pembukaan posko penggalangan, menurutnya sudah dibuka sejak 3 Juli 2013 lalu dan hingga saat ini diperkirakan jumlah dana yang sudah terkumpul mencapai 40 juta rupiah.

Ia menambahkan, posko penggalangan dana kemungkinan akan ditutup awal Ramadan ini, dan dana tersebut nantinya akan digunakan untuk pembelian logistik sesuai dengan kebutuhan korban gempa.

“Rencananya penyaluran yang akan kita lakukan berupa uang dan logistik, dan kita akan lakukan koordinasi terlebih dahulu dengan pihak pemerintah ke dua dareha dulu apa kebutuhan urgennya,” kata dia.

Selain bantuan dari Pemko, kata dia lagi, saat penyerahan bantuan nantinya, pihak Pemko Banda Aceh juga akan menyampaikan bantuan spontanitas yang diserahkan oleh anggota DPRD tingkat II Balikpapan dan jajaran SKPD Balikpapan yang diserahkan oleh Ketua DPRD tingkat II Balikpapan belum lama ini kepada pemko Banda Aceh.

Penyerahan bantuan nantinya, rencananya akan langsung diserakan oleh dua pimpinan Pemko Banda Aceh, yaitu Wali Kota Banda Aceh, Mawardy Nurdin, dan Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, di lokasi bencana.

“Kemungkinan bapak wali dan ibu wakil akan langsung ke lokasi bencana menyerahkan bantuan serta melihat kondisi disana,” kata dia.() Sumber : www.atjehpost.com

Pemerintah Aceh salurkan 80 miliar untuk Gempa Gayo

Foto : Mualem- Zukarnaen www.atjehpost.com

WAKIL Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem, mengatakan Pemerintah Aceh menyediakan dana sebesar Rp80 miliar untuk gempa Gayo. Hal ini diungkapkan Wagub Mualem dalam konferensi pers di posko induk Aceh Tengah, lapangan Setdakab, Senin 8 Juli 2013.

Menurut Mualem, bantuan dari Rp80 miliar itu disalurkan secara bertahap sesuai keperluan yang diperlukan setiap harinya selama darurat.

“Untuk bantuan menjelang meugang ini Pemerintah Aceh menyalurkan 50 ekor sapi untuk korban gempa gayo mencakup Aceh Tengah dan Bener Meriah,” kata Mualem.

Di bulan puasa, kata Wagub Mualem, Pemerintah Aceh juga menyalurkan keperluan selama puasa seperi kurma dan lainnya.

Pemerintah Aceh juga akan memberikan bantuan semua keperluan korban gempa Gayo dan terkait rehab rekon akan dibahas setelah masa darurat.

Tadi malam, Gubernur Aceh Zaini Abdullah sudah menetapkan gempa Gayo (Aceh Tengah dan Bener Meriah) sebagai bencana Aceh (berskala provinsi) dan sekaligus menandatangani surat keputusan pelaksanaan tanggap darurat, Minggu 7 Juli 2013.

“SK pernyataan (status) bencana dan pelaksanaan masa tanggap darurat perlu kita buat untuk dasar pembiayaan program dan kegiatan yang akan dilakukan dalam masa tanggap darurat yang telah kita tetapkan pada 3-16 Juli 2013,” kata Gubernur Aceh, Zaini Abdullah sebagaimana dikutip Harian Serambi Indonesia.

Setelah SK Pernyataan Bencana Gempa dan Pelaksanaan Tanggap Darurat diteken, kata Gubernur, maka komando pelaksanaan tanggap darurat dan rehab rekons pascabencana gempa Gayo (di Aceh Tengah dan Bener Meriah) menjadi tanggungjawab Pemerintah Aceh.() Sumber : www.atjehpost.com

Polda Aceh bermain bersama anak korban gempa di Ketol

Foto : Imam

Imam Abdillah

KEPOLISIAN Daerah (Polda) Aceh bermain bersama anak-anak di pengungsian Ketol Aceh tengah, hari ini, Senin, 8 Juli 2013. Amatan KAPHA NEWS terlihat puluhan anak antusias melaqkukan permainan bersama Polisi-polisi Wanita disana.

Salah seorang anak, Rafli mengaku senang bermain bersama polisi disana. "Senang, mau main kayak gini terus," kata Rafly. Permainan yang dilakukan mulai dari memasukkan paku ke botol , bernyanyi bersama dan lomba-lomba lainnya.

Kegiatan ini juga dilakukan bersama Himpunan Psikologi Indonesia (HimPsi) dan Ikatan Mahasiswa Psikologi (IMPSI) Aceh. Permainan ini dilakukan dalam menghibur anak-anak Ketol paska Gempa 2 Juli lalu, agar anak-anak merasa nyaman dan diharapkan hilangnya trauma anak-anak disana.


Sampai saat ini Jumlah korban akibat gempa didataran tinggi gayo mencapai 40 orang yang meninggal dunia, ratusan dirawat, ribuan bangunan rusak. Masyarakat masih banyak yang mengungsi dan kebanyakan diantara mereka juga belum berani untuk kembali pulang, karena masih masih trauma atas gempa 6,2 SR seminggu lalu.(IMF)

Wagub Mualem kirim 12 ribu selimut untuk korban gempa Gayo

Foto : Miko/www.atjehpost.com

WAKIL Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengirimkan 12 ribu lembar selimut untuk dibagikan kepada pengungsi korban gempa Gayo. Bantuan tersebut dikirimkan atas nama Syahbuddin, Kepala Seksi Bantuan Sosial di Dinas Sosial Aceh Tengah.

"Selimut yang dikirim langsung atas nama saya," kata Syahbuddin kepada ATJEHPOSTcom di warung kopi depan pendopo bupati, Desa Baleatu, Aceh Tengah, Senin pagi 8 Juli 2013.

Syahbuddin mengaku terkejut ketika 12 ribu selimut itu dikirimkan atas namanya. Apalagi yang mengirim Wakil Gubernur Aceh.

"Saya tidak tahu kenapa dikirim atas nama saya," kata Syahbuddin.

Direncanakan, hari ini seluruh selimut akan dibagikan langsung melalui Dinas Sosial Kabupaten Aceh Tengah kepada pengungsi korban gempa Gayo.

Kemarin, Wagub Aceh Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem mengunjungi lokasi gempa di Bener Meriah dan Aceh Tengah. Kepada para pengungsi, Mualem menyumbang 50 ekor sapi untuk kebutuhan meugang para pengungsi menyambut ramadhan.

Selain itu, Mualem juga menyampaikan titipan 24 ekor sapi dari Wali Nanggroe Malik Mahmud yang ikut membantu pengungsi untuk meugang menyambut bulan ramadhan. Bersamaan dengan bantuan untuk meugang, Wagub juga mengirim obat-obatan dan kebutuhan pokok lainnya.

Sampai hari ini, Mualem masih berada di lokasi pengungsian korban gempa. []Sumber : www.atjehpost.com

Jelang meugang, aktifitas di pasar Gayo sepi

Gambar : Daging

COPAS
TRADISI meugang di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah terlihat sepi, Minggu 7 Juli 2013. Antusias masyarakat untuk membeli daging jelang puasa Ramadan juga tampak menurun drastis pasca gempa 6,2 SR yang melanda daerah itu, Selasa lalu.

Pantauan ATJEHPOSTcom, sejumlah pasar daging di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah relatif sepi.

“Bagaimana kita beli daging. Tenda saja untuk berteduh tidak ada,” ujar Ilham, seorang warga korban gempa di Aceh Tengah.

Yang dibutuhkan masyarakat saat ini, kata dia, adalah tenda serta selimut. Selain itu juga dibutuhkan sembako untuk kebutuhan sehari-hari.()Sumber : www.atjehpost.com

Harga daging 130 ribu di Takengon

Foto : Jauhari Samalanga/www.atjehpost.com

HARI ini harga daging kerbau dan sapi di pajak daging kota Takengon yang biasanya berkisar Rp 90-Rp100 ribu per kilogram, naik masing-masing menjadi Rp 130 ribu per kilogram untuk daging kerbau dan Rp 120 ribu per kilogram untuk daging sapi, Senin 8 Juli 2013.

"Tulang kerbau dan tulang sapi harganya Rp 50 ribu sekilo," kata pedagang daging kepada ATJEHPOSTcom.

Salah seorang pembeli yang ditanyai ATJEHPOSTcom mengatakan, harga tersebut tidak menjadi masalah menurutnya yang penting stok daging untuk meugang tersedia.

"Setiap hari meugang daging kan sudah pasti naik," katanya.

Sementara untuk harga cabai dan bawang masih normal, bahkan harganya telah turun dibanding beberapa hari lalu. Untuk Harga cabe merah sebelumnya Rp. 45-50 ribu per kilogram, hari ini turun menjadi Rp 42-45 ribu per kilogram, sedangkan bawang masih stabil di harga Rp 20-25 ribu per kilogram.[]Sumber : www.atjehpost.com

Si Wen Gayo tak terpikir lagi hari Meugang

Gambar : Logo Koalisi Advokasi dan Pemantauan Hak Anak (KAPHA)

Redaksi
BERDASARKAN Hisab Muhammadiyah tentang jadwal awal puasa jatuh pada 9 Juli 2013. Hari ini 8 Juli 2013, seperti adat istiadat Aceh Meugang biasa dilakukan. Kapanpun hari dan jadwal awal puasa atau ramadhan jatuh yang jelas saat ini masyarakat Gayo tidak akan menyambut puasa seperti tahun-tahun sebelumnya.

Gempa berkekuatan 6,2 SR pada 2 Juli lalu memluluhlantakkan dataran tinggi Gayo terutama di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Bukan hanya bangunan, kebun pepohonan yang hancur, hati masyarakat juga dirasakan seluruh dunia dalam kesedihan masyarakat. Bagaimana tidak paska gempa data menunjukkan rubuan rumah rusak, puluhan orang meninggal, ratusan orang dirawat dan lain sebagainya.

Mungkin si Wen didataran tinggi itu, telah mencium wangi dan damainya Ramadhan 2 minggu yang lalu. Tapi sehari ataupun dua hari menjelang Ramadhan wangi itu hilang, karena sikecil telah pilek, indra penciumannya tersumbat menjelang bulan suci bagi ummat Islam. Hilang sudah tawa ceria ketika bermain bersama teman didepan halaman rumah si kecil disuatu desa menunggu sang bunda memasang rendang seperti tahun sebelumnya.

Yaaa... kali ini si Wen harus menunggu jajakan makanan ditenda-tenda pengungsian, adapun makanan terasa hambar, karena dinginnya dataran tinggi sangat terasa ketika sandang dan papan masih belum layak seperti tempat biasa si kecil menonton Spongebob sambil terlentang di ambal yang dibeli ayahnya hasil dari penjualan biji kopi dikebunnya.

Si Wen juga belum tahu, kalau kebun ayah tempat biasa memetik biji kopi telah rusak, namun si Wen tahu, kalau kebun kopi milik ayahnya bukan untuk sikecil meminum kopi melainkan untuk sekolahnya dan membeli susu adik perempuannya yaang baru lahir dua minggu yang lalu. sang ibu masih saja merasakan perih usai melahirkan 2 minggu yang lalu.

Tapi yang paling berat diterima si Wen ketika melihat si adik yang kedinginan ditenda pengungsian, si Wen selalu terbangun ketika malam hari kala adiknya menangis, sang Ibu terbangun dari mimpi untuk kembali kerumah yang hangat dan harus menyusui si adik, dalam hati si Wen "Ibu sangat lelah", terlebih dinginnya malam ketika dia melihat itu bertambah karena hujan turun.

Ukuran otak si wen yang masih berusia 7 tahun belum sebesar otak orang dewasa, Namun karena musibah yang terjadi Wen terpikir pada keluarganya, padahal anak si kecil itu seharusnya belum memikirkan masalah sebesar itu. Bagaimana mau memikirkan Meugang seperti tahun-tahun sebelumnya, memikirkan hal ini saja membuat Wen tak lagi seperti anak usia 7 Tahun.

7 hari setelah musibah gempa dahsyat, masyarakat Gayo masih saja merasakan dinginnya malam berada ditenda, pakaian seadanya. Redaksi KAPHA NEWS menyampaikan mari tetap wujudukan kepedulian kita terhadap masayarakat Gayo yang masih berbelasungkawa dan hidup dalam duka. Untuk itu KAPHA NEWS menginformasikan bahwa Koalisi Advokasi dan Pemantauan Hak Anak (KAPHA) akan menjemput segala bentuk sumbangan, para penyumbang cuku p menginformasikan di email : kaphaaceh@gmail.com, para relawan KAPHA akan menjemput sumbangan yang akan diberikan.


KAPHA NEWS juga menerima tulisan dan ucapan duka untuk dimuat diblog sederhana KAPHA, dimana blog tersebut bukanlah blog utnuk komersial, hanya sebagai informasi segala hal yang berhubungan dengan anak. Mari bersama kita kembalikan penciuman si Wen untuk mencium wangi Bulan Suci Ramadhan.

Pemimpin Redaksi

KAPHA NEWS
Fiqih Purnama

Lembaga anak gelar pelatihan psikososial jelang keberangkatan ke Gayo

GAMBAR : PSikososial Anak

IMF
SEBANYAK tiga lembaga yang bergerak di isu anak menggelar pelatihan psikososial  hari ini pukul 10.00 WIB di aula Muhammadiyah Aceh. pelatihan ini juga didukung pihak  Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Aceh.

Pelatihan psikososial ini dibuat oleh tiga lembaga yaitu Koalisi Advokasi dan Pemantauan Hak Anak (KAPHA), Children Center Aceh dan Yayasan Puleh Aceh. Seperti yang disampaikan Koordinator KAPHA Aceh, M. Khalissul Surya kepada KAPHA NEWS, Senin, 8 Juli 2013 di Banda Aceh.

"Korban gempa di Gayo saat ini membutuhkan tenaga psikososial, maka kita yang akan segera berangkat ke3sana harus terlebih dahulu membekali diri untuk melakukan psikososial disana," kata Khalissul.

Khalissul juga menambahkan psikososial ditargetkan kepada anak-anak korban Gempa Gayo.  Sebelumnya Ketua Dewan Pembina KAPHA Aceh, Taufik Riswan mengatakan paska bencana anak-anak adalah kelompok yang rentan, maka perhatian harus mengutamakan anak-anak.

Adapun pelatihan psikososial hari ini akan difasilitasi oleh Wanie dan Fatmawati.(IMF)

Truk kopi terbalik, Bener Meriah alami kemacetan malam tadi

Foto : Truk terbalik di kawasan Enang, Bener Meriah / Imam Abdillah Lukman

Imam

DIKAWASAN Enang, Kabupaten Bener Meriah, Truk yang membawa muatan kopi menuju Banda Aceh terbalik sekitar pukul 00.30 malam hari tadi.

Amatan KAPHA NEWS dilokasi tadi malam,Senin, 8 Juli 2013 diduga terbaliknya truk tersebut dikarenakan muatan kopi yang cukup banyak didalam bak truk tersebut, sehingga ketika ada tikungan yang menanjak membuat truk tersebut tidak seimbang.

Kemacetan yang terjadi di enang-enang sangat panjang dan diberlakukan sistem tutup buka pada malam hari tadi. Ditengah kondisi seperti itu ternyata masih banyak rombongan peduli Gayo yang datang pada malam hari.

Sehingga rombongan diharapkan berhati-hati dengan banyaknya rombongan lain yang menuju kesana.(IMF)

Anak-anak Aceh trauma gempa


COPAS

ANAK-anak korban gempa bumi berkekuatan 6,2 skala Richter yang terjadi di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, Provinsi Aceh masih mengalami trauma.

"Kalau ada gempa susulan, Syifa lari ketakutan dan mukanya pucat," kata salah seorang warga Cekal Kabupaten Bener Meriah Ruhdi Muharram yang dihubungi dari Jakarta, Jumat.

Syifa adalah anak pertama Ruhdi yang berusia empat tahun. Saat gempa bumi terjadi ia sedang berada di dalam rumah dan berhasil diselamatkan. Meskipun tidak mengalami luka-luka, namun trauma akibat gempa bumi masih dirasakan.

Hal senada disampaikan Syafrianda Selian, warga Pinangan Paya Tumpi Kabupaten Aceh Tengah. Anak keduanya Icha yang berusia tujuh tahun juga trauma terhadap gempa yang meluluhlantakkan dua kabupaten di dataran tinggi Gayo itu.

"Icha masih menangis kalau terjadi gempa susulan, bahkan kadang dalam tidurnya dia juga terbangun tiba-tiba meskipun tidak terjadi gempa," ungkap Syafrianda.

Hingga saat ini penanganan darurat gempa bumi di Bener Meriah dan Aceh Tengah masih terus dilakukan dengan fokus utama melakukan upaya pencarian dan evakuasi serta penyelamatan korban, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi dan pelayanan kesehatan.

Data sementara korban gempa tercatat 30 orang meninggal dunia, 12 orang hilang dan 275 orang luka-luka dengan perincian di Bener Meriah 12 meninggal dunia dan 109 luka-luka, sedangkan di Aceh Tengah 18 orang meninggal dunia, 12 orang hilang, dan 166 luka-luka.

Di Bener Meriah terdapat 12 orang meninggal dunia. Luka-luka 109 orang dimana 43 orang di RS UD Muyan Kute, 50 orang di Puskesmas Pante Raya, dan 16 orang di Puskesmas Lampahan.

Sebanyak 789 rumah rusak, di mana 537 unit rumah rusak sedang-berat dan 252 unit rumah rusak ringan. Infrastruktur jalan rusak dan tertimbun tanah longsor ada tujuh titik, di mana tujuh titik sudah selesai diperbaiki.

Terdapat delapan fasilitas umum seperti puskesmas, sekolah, masjid, dan kantor desa yang rusak. Ada 15 titik pengungsian. Hingga saat ini jumlah pengungsi masih didata.

Sedangkan di Aceh Tengah terdapat 18 orang meninggal dunia. Luka-luka 166 orang, dimana rawat inap 114 orang dan rawat jalan 52 orang.

Kerusakan 3.503 unit rumah rusak dimana 1.368 unit rumah rusak berat, 2.135 unit rumah rusak ringan. 75 unit fasum mengalami kerusakan. Ada 20 titik pengungsian dan pendataan pengungsi juga masih terus dilakukan.() Sumber : www.atjehpost.com/antaranews

PMI Pidie siapkan bantuan untuk anak-anak korban di Gayo

COPAS

PALANG Merah Indonesia (PMI) Cabang Pidie menggalang bantuan kemanusian untuk korban gempa di Bener Meriah dan Aceh Tengah atau dataran tinggi Gayo.

“Penggalangan sejak kemarin, saat ini sudah terkumpul sejumlah bantuan dalam bentuk dana dan barang,” kata Ketua PMI Pidie Zakaria Muhammad Yusuf kepada ATJEHPOSTcom, Sabtu, 6 Juli 2013.

PMI Pidie kata Zakaria, sudah menyiapkan bantuan 47 potong baju anak-anak, 103 celana anak-anak, 22 pasang seragam SD untuk anak perempuan dan 45 helai selimut.

Sedangkan bantuan dari masyarakat, Zakaria menyebutkan, hingga tadi malam sudah terkumpul 12 kotak air mineral dan uang tunai sumbangan masyarakat Pasar Grong-Grong Rp729.000.

“Hari ini penggalangan dana sedang dilakukan di Pasar Kota Sigli, Pasar Simpang Tiga, Pasar Kembang Tanjong, Pasar Kota Bakti dan Pasar Padang Tiji," ujarnya.

Bagi yang ingin menyumbang bantuan bisa datang ke Sekretariat PMI di Alun-Alun Kota Sigli. “Direncanakan besok semua bantuan yang terkumpul akan didistribusikan ke lokasi dampak gempa di Bener Meriah Aceh Tengah,” kata Zakaria.() Sumber :www.atjehpost.com

Minggu, Juli 07, 2013

Korban gempa di Desa Bah akan dipindahkan ke lokasi lain

Foto : Miko www.atjehpost.com

PENGUNGSI Desa Bah Kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Tengah, diminta pemerintah daerah setempat untuk pindah ke lokasi yang lebih aman, yaitu ke Desa Simpang Raja Wali. Akan tetapi sejumlah warga enggan, karena alasan tempat yang terlalu jauh dari perumahan milik mereka.

"Warga sebenarnya tidak mau pindah, tapi terus diminta untuk pindah," tutur salah seorang warga Desa Bah yang tidak mau disebut namanya, Minggu 7 Juli 2013.

Sebagian warga yang masih bertahan di Desa Bah kondisinya semakin miris, tak sedikit dari mereka trauma dan ketakutan. "Jadi warga semakin khawatir saat ini," tuturnya.

Kabar yang beredar di tengah warga, upaya pemindahan tersebut diduga terkait dengan rencana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi lokasi gempa.

Oleh karena itu, warga berharap agar tidak menambah beban lain di tengah-tengah musibah yang sedang melanda warga Bah. Warga justru ingin tetap berada di tempat pengungsian di Desa Bah. Semestinya warga sudah diminta untuk pindah sejak pukul 16.00 sore tadi, akan tetapi warga tetap bertahan di lokasi dan sampai malam ini.

"Sebenarnya sudah sejak tadi jam 16.00 WIB disuruh pindah," tuturnya.

Sementara itu kepala Desa Bah Selamatsyah membenarkan, bahwa pengungsi di Desa Bah mau dipindahkan ke Desa Simpang Raja Wali di kecamatan yang sama.

"Ini merupakan keinginan dari masyarakat setempat untuk dipindahkan," jelas Selamatsyah.

Selamatsyah mengatakan, dipindahkannya pengungsi ke tempat lain mengingat kawasan tersebut rawan terhadap longsor dan mencari tempat yang lebih aman. "Kita ingin carikan tempat yang lebih aman untuk pengungsi," tutur Selamatsyah.() Sumber : www.atjehpost.com/merdeka

Gubernur Zaini : Masa tanggap darurat gempa Gayo hingga 16 Juli

Foto : Gubernur Zaini Tribunnews.com

Gubernur Aceh Zaini Abdullah menetapkan masa tanggap darurat gempa yang terjadi di dataran tinggi Gayo meliputi Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah hingga 16 Juli 2013.

"Hari ini saya menandatangani surat keputusan masa tanggap darurat gempa di Gayo. Masa tanggap darurat ini berlangsung 3 hingga 16 Juli mendatang," kata Zaini Abdullah di Banda Aceh, Ahad (7/7).

Pernyataan tersebut disampaikan Abdullah usai menggelar rapat koordinasi dengan para kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) serta instansi terkait lainnya.

Menurutnya, masa tanggap darurat tersebut bisa diperpanjang hingga waktu tertentu. Namun, perpanjangan masa tanggap darurat tergantung situasi dan kebutuhan di lapangan.

"Masa tanggap darurat ini dikomandoi Badan Penanggulangan Bencana Aceh. Setelah tanggap darurat dilanjutkan dengan masa rehabilitasi dan rekonstruksi," ujar Zaini Abdullah.

Ia menyebutkan gempa 6,2 skala richter yang terjadi di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah pada 2 Juli 2013 menyebabkan 40 warga menjadi korban meninggal dunia.

"Sebanyak 12 orang masih dinyatakan hilang, 150 korban menjalani rawat inap karena luka serius, lebih 2.312 orang harus dirawat jalan yang ditangani di posko kesehatan terdekat," kata Zaini.

Selain itu, rumah rusak berat 2.432 unit, rusak ringan 3.380 unit. Fasilitas publik yang rusak di antaranya RSUD Datu Beru, Takengon, Aceh Tengah, puskesmas satu unit, puskesmas pembantu dua unit, polindes satu unit.

"Masjid atau musala yang rusak berat empat unit dan 25 unit rusak ringan. Sekolah rusak tiga unit dan kantor desa satu unit. Saya sudah perintahkan SKPA terkait segera menangani fasilitas publik yang rusak tersebut," sebut Abdullah.() Sumber : Republika Online

Presiden akan tinjau pusat gempa hari selasa

Foto : Akun twitter @SBYudhoyono

IMF

PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono akan tinjau pusat bencana di Kabupaten Bener Meriah, Aceh pada Selasa, 9 Juli 2013 nanti. Informasi diambil dari akun Twitter milik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono @SBYudhoyono, hari ini, Minggu, 7 Juli 2013.

Masih dalam akun twitternya SBY untuk sementara ini sedang mempelajari laporan tentang gempa Aceh. Bencana Gempa Bumi. Gempa berkekuatan 6,2 SR yang menghentakkan dataran tinggi Gayo 2 Juli lalu membuat ribuan rumah rusak, badan jalan dan fasilitas lainnya.

Sampai saat ini berdasarkan informasi yang dihimpun, sebanyak 40 orang dinyatakan meninggal paska gempa dan puluhan orang masih dilakukan pencarian serta ratusan orang melakukan pengobatan setelah mengalami luka berat dan ringan.

Bantuan juga gterus mengalir dilokasi bencana dan beberapa lembaga telah meninjau lokasi seperti Koalisi Advokasi dan Pemantauan Hak Anak (KAPHA), Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Aceh, Children Center Muhammadiyah, Yayasan Puleh Aceh, A2C, Mahasiswa Psikolgi Aceh dan lain sebagainya. (IMF)