ead KAPHA ACEH
Loading...

Selasa, Februari 04, 2014

Pijat Mampu Optimalkan Tumbuh Kembang Bayi

MI/Usman Iskandar/BD
Bagi para orang tua yang memiliki bayi atau batita, banyak cara untuk mengoptimalisasikan pertumbuhan sang buah hati. Salah satunya dengan pijat bayi.

Pijat merupakan terapi sentuh yang telah lama populer di Indonesia. Adapun pijat bayi merupakan gabungan dari bentuk rangsangan atau stimulasi, kinestestis, yang disertai komunikasi verbal, sebagai wujud cinta kasih orang tua terhadap bayi.

Dr Rini Sekartini, spesialis anak dalam seminar kesehatan bertema Stimulasi pijat untuk optimalisasi tumbuh kembang anak di Hotel Mandarin Oriental, Minggu (12/1), menyebutkan berbagai manfaat pijat bagi bayi dan batita, yakni untuk memperbaiki pertumbuhan, mendorong perkembangan syaraf motorik, kognitif, serta perkembangan sosialnya.

Selain itu, pijat bayi dapat meningkatkan sistem imun, menambah berat badan, memperbaiki sirkulasi darah dan pernapasan, membantu bayi untuk berlatih relaksasi dan juga meredakan ketidaknyamanan akibat tumbuh gigi. Bagi bayi yang suka rewel di malam hari, pijat bayi bermanfaat untuk membuat tidur lebih lelap dan lama.

metrotvnews.com

KPU Sosialisasi Lagu Mars Pemilu

Baliho Pemilu 2014 di Gedung KPU Foto: Tahta Aidilla/Republika
REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Lewat Mars Pemilihan Umum, KPU Kota Malang, Jawa Timur, akan melakukan sosialisasi secara intensif yang menyasar para pemilih pemula di jenjang sekolah menengah atas (SMA).

"Kami akan menggandeng Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang untuk melakukan sosialisasi terhadap pemilih pemula dengan memutar lagu mars Pemilihan Umum (Pemilu) di seluruh SMA sebelum pelajaran dimulai," kata komisioner Komisi pemilihan Umum (KPU) Kota Malang Zainuddin, Senin (3/2).

Menurutnya, jika mars Pemilu selalu diputar atau diperdengarkan kepada pelajar setiap menjelang pelajaran dimulai, mereka akan selalu ingat bahwa Pemilu Legislatif (Pileg) bakal digelar 9 April nanti.

Artinya, kata Zainuddin, para pelajar, khususnya yang sudah memiliki hak pilih akan tergerak untuk menggunakan hak pilihnya dalam menentukan wakil rakyat untuk lima tahun ke depan.

Selain melalui pemutaran lagu mars Pemilu, lanjutnya, pihaknya juga telah melakukan sosialisasi secara intensif ke SMA-SMA yang memiliki potensi pemilih pemula cukup besar. Sosaialisasi tersebut dikemas dalam program 'Road to School'.

Melalui program tersebut, KPU mendatangi sekolah-sekolah untuk memberi pemahaman tentang pentingnya memilih dan waktu pelaksanaan Pileg 9 April 2014.

Ia mengakui sosialisasi Pileg tersebut tidak hanya di tingkat pelajar (SMA), tapi juga di kalangan mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi yang ada di Kota Malang, sebab tidak menutup kemungkinan juga menjadi pemilih pemula.

Sembari menunggu petunjuk dari KPU pusat terkait pelaksanaan Pileg, KPU Kota Malang sudah lebih dulu melakukan sosialisasi dengan berbagai bentuk. Di antaranya, sosialisasi tatap muka, pemasangan spanduk, jalan sehat, karnaval hingga pawai.

Zainuddin berkata, model sosialisasi tatap muka, akan dilakukan dengan sasaran masyarakat umum, termasuk anak-anak muda. "Gencarnya sosialisasi ada seluruh elemen tersebut untuk meningkatkan angka partisipasi pemilih, termasuk pemilih pemula," ujarnya.

Untuk memaksimalkan sosialisasi Pileg pada seluruh lapisan masyarakat itu, KPU juga telah merekrut 25 orang relawan dengan sasaran lima komunitas, seperti masyarakat pinggiran, kelompok agama, dan kelompok perempuan serta kelompok disabelitas.

Jumlah pemilih Pileg di Kota Malang yang sudah amsuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) mencapai 600 ribu jiwa lebih dan 20 persen di antaranya adalah pemilih pemula.

republika.co.id

Belum Ada Pusat Perlindungan Bencana untuk Anak 5-18 Tahun

Berada di pengungsian tentu membuat jiwa tertekan. Dibimbing petugas dari Kementerian Kesehatan, ibu-ibu serta anak-anak di lokasi pengungsian Gading Nias Jakarta Utara, Rabu (22/1/2014) diajak melakukan gerakan-gerakan untuk mengurangi stress 
Pemerintah mengakui belum adanya pusat perlindungan anak yang terkena bencana alam usia 5-18 tahun. Hal itu dikatakan oleh Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.

"Saat ini memang belum ada pusat perlindungan bencana untuk anak usia 5-18 tahun," kata Sutopo di Kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Menteng, Jakarta, Senin (3/2/2014).

Sutopo menuturkan, dirinya justru ingin KPAI memberikan pedoman bagaimana bentuk pusat perlindungan tersebut. Karena menurutnya, pusat perlindungan anak terhadap bencana tentu akan berbeda pengaplikasiannya di Indonesia.

"Tapi pedoman itu harus sesuai dengan kondisi sosial masyarakat kita. Karena tidak jarang justru orang tua di pengungsian tidak mau pisah dari anaknya," tuturnya.

Sutopo menjelaskan, saat ini BNPB dalam pengungsian menggelompokkan balita, ibu hamil dan lansia masuk dalam kelompok rentan. Menurutnya, anak-anak balita telah mendapatkan perlakuan khusus dibanding dengan pengungsi lainnya yang bukan kelompok rentan.

"Di pengungsian untuk balita selalu ada kebutuhan dasar seperti popok, pampers, makanan bayi dan sebagainya," ucapnya.

Sebelumnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai penanganan terhadap anak-anak yang menjadi korban bencana di Indonesia belum sesuai. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Divisi Pengawasan KPAI
M Ihsan.

"Penanganan anak-anak usia 5-18 tahun belum sesuai. Karena biasanya digabung oleh orang dewasa," kata Ihsan.

Ihsan menuturkan, di negara maju penangganan anak korban bencana usia 5-18 tahun sudah terpisah dari orang dewasa. Untuk itu ia mendorong agar penanganan anak korban bencana usia 5-18 tahun di Indonesia ada pemisahan.

"Harus ada pusat perlindungan anak usia 5-18 tahun. Itu harus ada perlindungan khusus," ucapnya.


tribunnews.com

Senin, September 09, 2013

Hampir 2 Juta Anak-anak di Suriah Putus Sekolah

kapha aceh
Sejumlah anak-anak pengungsi Suriah bermain di dekat tenda mereka, di kamp pengungsian sementara di perbatasan Libanon (28/8)(AP Photo/Bilal Hussein)

KAPHA ACEH, Jakarta - Konflik yang terjadi di Suriah sungguh memprihatinkan. Bukan hanya memakan korban jiwa, tapi juga merenggut masa depan anak-anak Suriah. Mereka dijadikan informan hingga direkrut jadi tentara. Padahal, mereka tetap anak-anak yang perlu sekolah. Hampir 2 juta anak Suriah dinyatakan putus sekolah akibat perang saudara selama dua tahun ini.

"Ini hal yang mengejutkan untuk Suriah. Padahal, sistem pendidikan di sana hampir setara dengan pendidikan dasar yang universal. Pemindahan, kekerasan, ketakukan, dan suasana yang tidak stabil membuat anak sulit meraih kebahagiaan untuk bersekolah," kata Maria Calivis, Direktur Regional UNCEF untuk Timur Tengah, Jumat, 6 September 2013.

Calvis juga mengatakan, ada sekitar 1 juta anak-anak Suriah mengungsi ke negara tetangga untuk agar bisa hidup lebih aman, tapi tidak melanjutkan sekolah. Hanya sepertiga atau kurang dari mereka memilih Irak, Libanon, dan Yordania untuk melanjutkan sekolah formal di sana. Di tempat pengungsian di Yordania, sebanyak 12.000-30.000 anak-anak mendaftar untuk melanjutkan sekolah.

PBB mengatakan bahwa bulan lalu organisasi asuhan mereka sudah menyediakan dana untuk pendidikan untuk 118.000 anak-anak. UNICEF juga sudah meminta dana sebesar US$ 161 juta unuk bantuan pendidikan dan anak-anak di Suriah. Namun, baru sekitar US$ 51 juta saja yang diterima.

http://www.tempo.co/read/news/2013/09/08/115511353/Hampir-2-Juta-Anak-anak-di-Suriah-Putus-Sekolah

Tags : MKS 

Sabtu, September 07, 2013

Ukuran Kelamin Syarat Masuk SMP, Komnas Anak Banjir Aduan

Foto : Bentuk Gambar Quesioner (dok. kapha aceh)
Sabtu, 07/09/2013. 01:17 WIB
Tags : Mks

Komisi Nasional Perlindungan Anak mengecam dicantumkannya ukuran kelamin siswa dalam uji kesehatan di SMP di Kota Sabang, Aceh. Menurut dia, pencantuman itu melanggar hak anak untuk menuntut ilmu di sekolah.

"Kami menilai itu tak ada hubungan dengan pendidikan maupun kesehatan. Ini melanggar hak anak, selain melanggar nilai agama," kata Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait ketika dihubungi Liputan6.com di Jakarta, Kamis (5/9/2013).

"Apa hubungan besar kecilnya payudara dan penis dengan pendidikan dan kesehatan? Apakah dengan besar kecilnya kelamin itu menandakan orang sehat atau tidak."

Arist mengaku 'banjir' keluhan dari orangtua siswa. Para wali murid melaporkan kuisioner yang diberikan pihak sekolah kepada anak-anak mereka.

Dalam keluhan itu, banyak orangtua siswa yang mengatakan bahwa dalam uji kesehatan tersebut anak-anak mereka diberi lembar kuisioner. Di dalam kuisioner itulah para siswa diminta mengisi ukuran kelamin mereka.

"Alasannya untuk periksa kesehatan siswa dan siswi. Ada pilihan-pilihan penis, payudara, dan sebagainya. Para siswa disuruh melingkari angka yang menunjukkan berapa besar atau kecil penis atau payudaranya," tutur dia.

"Itu membuat resah masyarakat di sana, mungkin tidak cocok dengan syariat Islam yang diberlakukan di sana," tambah Arist. (Eks/Ism)

http://news.liputan6.com/read/684753/ukuran-kelamin-syarat-masuk-smp-komnas-anak-banjir-aduan

Bagaimana Pengasuhan Terbaik untuk Anak? Ini Saran Psikolog

Kapha Aceh
Ilustrasi  : (dok. kapha aceh)
Jum'at, 06/09/2013, 01:09 WIB
Tags : Mks

Jakarta, Mengasuh anak memang bukanlah hal yang mudah, terlalu galak pada anak tidak baik untuk perkembangan mental, terlalu lembut juga bisa membut anak menjadi sangat manja. Lalu harus bagaimanakah dalam mendidik anak?

"Cara asuh moderat itu, anak setara dengan orang tua. Ada diskusi, si anak maunya apa, bagaimana, apa yang telah dia lalui, jadinya di masa depanpun anak bisa jadi pribadi yang bagus," tutur psikolog anak, Anna Surti Ariani., M.Si.

"Tidak hanya pribadinya yang bagus, hubungan ibu dan anak juga jadi dekat, anak terbuka dengan ibu atau kedua orang tuanya," tambah Anna pada acara Talkshow yang diadakan Sarihusada. Di Restoran Kembang Goela, Jl Jenderal Sudirman Kav. 47-48, Jakarta Selatan, Kamis (5/9/2013).

Anna juga mengatakan bahwa orang tua yang pada mendidik rata semua anaknya dengan cara yang terlalu disiplin atau terlalu keras itu tidak akan bagus dikemudian hari karena sifat anak yang berbeda-beda. Terlebih jika menggunakan kekerasan.

"Apalagi menggunakan kekerasan. Itu sampai berpuluh tahunpun bisa masih ingat. Ada beberapa klien saya yang bahkan masih ingat perlakuan kasar yang diberikan orang tuanya. Padahalkan sudah berpuluh-puluh tahun. Jadi ada baiknya jangan melakukan kekerasan," ujar Anna.

Tidak hanya orang tua yang mendidik dengan terlalu keras bahkan dengan kekerasan. Orang tua yang mendidik dengan tidak tegas, terlalu baik pada anaknya, hampir semuanya dituruti, anak bisa menjadi manja.

"Anak yang terlalu dibaiki sama orang tuanya juga tidak baik, anak jadi manja. Besarnya juga jadi anak yang manja. Akhirnya apa? Pada saat kerja dia maunya gaji yang besar. Padahal apa yang dia kerjakan juga tidak sepadan," katanya.

"Oleh karena itu ada baiknya, orang tua dan anak duduk setara. Tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Bicarakan apa mau si anak, bagaimana harinya, kegiatannya. Kalaupun dia ada konflik, jangan diatur dan jangan dibantu, kasih dia pandangan lalu biarkan dia menyelesaikan konfliknya," lanjut Anna.

Ia juga menambahkan, "Dengan cara asuh moderat ini, anak jadi merasa diperhatikan, namun tetap tahu aturan. Anak yang sering diajak diskusi, bisa jadi cerdas, komunikatiif, seperti yang kita tahu komunikasi itu penting ya."

"Ia juga jadi tahu mau dibawa ke mana orang yang dipimpin olehnya kelak, dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, serta mampu bekerja sama. Hal ini kan sangat menjadi bekal untuk dia di masa depan," ucapnya.

Kurang Gizi Bisa Bikin Anak Tumbuh Jadi Orang yang Rasial dan Tak Toleran

kapha aceh
Ilustrasi (dok. kapha)
Jum'at, 06/09/2013, 00.55 WIB
Tags : MKS

Peran gizi memang sangat penting, terlebih lagi untuk anak-anak. Bukan saja untuk urusan kesehatan, gizi juga bisa mempengaruhi kehidupan sosial karena kurang gizi bisa membuat orang rasial dan tidak toleran.

"Peran gizi untuk tumbuh kembang anak sangat penting. Anak kurang gizi tidak akan sempat memikirkan masa depan," ujar Prof. Dr. Ir. H. Hardinsyah, MS.

Hal tersebut disampaikan kepada detikHealth, pada acara talkshow Ibu Masa Kini: Membuka Jalan Untuk Pemimpin Masa Depan yang diadakan Sarihusada di Restoran Kembang Goela, Jl Jend Sudirman Kav. 47-48, Jakarta Selatan, Kamis (5/9/2013).

"Gizi pasti berperan agar pertumbuhan dan perkembangan optimal. Gizi yang baik bisa mempengaruhi visi, karakter, daya pikir, dan semuanya," tutur dia.

Nah, dalam mencetak anak berprestasi, dukungan terhadap perkembangan otak menjadi faktor yang signifikan. Untuk mendukung perkembangan otak secara optimal, terutama di periode emas pertumbuhan, dibutuhkan kelengkapan gizi termasuk karbohidrat dan asam linoleat.

"Lebih dari itu, pemenuhan kebutuhan gizi secara tepat, lengkap dan seimbang akan saling memberikan pengaruh terhadap tumbuh kembang anak secara keseluruhan, termasuk otak, tulang, penglihatan dan imunitas," sambung Prof Hardinsyah.

Selain itu, kurangnya gizi bisa membuat orang rasial dan tidak toleran. "Menurut penelitian di Amerika, orang yang tidak toleran bisa meninggal lebih duluan. Karena orang yang rasial, tidak toleran dan saling membenci menghasilkan hormon kortisol di dalam tubuhnya," jelasnya.

Hormon kortisol yang meningkat bisa memancing gangguan pada fungsi organ, salah satunya pankreas, sehingga membuat yang bersangkutan rentan terkena diabetes. "Itulah mengapa gizi berperan penting, baik untuk pertumbuhan dan untuk masa depannya. Jadi penting sekali orang tua, khususnya ibu, memperhatikan gizi sang anak. Tidak berlebih atau pun kurang, tapi seimbang," tutupnya.

http://health.detik.com/read/2013/09/05/200430/2350674/1301/kurang-gizi-bisa-bikin-anak-tumbuh-jadi-orang-yang-rasial-dan-tak-toleran?880004755

Kamis, September 05, 2013

Trauma Pengungsi Anak - anak dari SURIAH

kapha aceh
Kamis, 05 September 2013, 15.00
Tags : MKS

Pengungsi anak-anak dari Suriah sering membuat gambar kekerasan perang. Jerman membantu proyek penanganan pengungsi anak-anak di Turki.

"Kalau ada pesawat terbang lewat, anak saya langsung kaget. Kalau melihat laporan perang di televisi, dia menangis dan memegang ibunya. Mereka sering menangis", cerita Mohammad, seorang pengungsi dari Suriah. Delapan bulan lalu, insinyur berusia 47 tahun itu melarikan diri bersama keluarganya dari Suriah. Perang itu terlalu brutal, katanya.

Menurut lembaga bantuan pengungsi PBB UNHCR, ada sekitar dua juta penduduk Suriah yang sekarang mengungsi ke luar negeri. Lebih dari setengahnya adalah anak-anak.

Di sekolah anak-anak pengungsi, banyak gambar-gambar tentang peristiwa perang. Perempuan yang menangis karena suaminya tewas, helikopter tempur, tank, orang-orang yang ditembak mati. Gambar-gambar itu kebanyakan berwarna hitam dan merah.
Gambar-gambar berdarah
kapha aceh
Gambar seorang anak pengungsi Suriah.


Tahun 2012, para ilmuwan dari Turki, Amerika dan Norwegia, meminta anak-anak pengungsi dari Suriah menggambar seseorang. Beberapa anak selalu menggambar air mata, darah atau senjata di gambarnya. "Anak-anak dari Suriah ini besar dengan perasaan takut, tidak percaya, tertipu", tulis tim peneliti Serap Ozer dan Selcuk Sirin di harian New York Times.

Di Pusat Pertemuan dan Pendidikan, BBZ di Kirikhan, Turki, gambar anak-anak sudah berubah. Gambar-gambar itu menunjukkan perempuan dengan jilbab, pria berdasi, orang-orang yang sedang tersenyum.

Anak-anak Mohammad sekarang sekolah di BBZ. Mereka menggambar berwarna-warni tidak hanya di kertas, melainkan juga di dinding sekolah. Banyak juga yang menggambar mukanya sendiri atau muka temannya. Seorang anak perempuan menggambar dua hati di pipinya. Ada anak laki-laki yang menggambar bendera suriah di dahinya.

Daya tahan tinggi

Peter Akman bekerja sebagai psikolog di BBZ. Sebelumnya dia bekerja selama enam tahun di Bulan Sabit Merah Turki. Dia sudah biasa bekerja dengan anak-anak pengungsi. Menurut Akman, pengalaman perang adalah pengalaman sangat traumatis bagi anak-anak. Terutama kalau mereka kehilangan rasa aman. "Mereka mendengar jatuhnya bom, melihat bagaimana rumahnya runtuh, terbakar, melihat orang tewas. Mereka lalu berpikir, orang tua saya tidak bisa melindungi saya lagi."

Tapi anak-anak punya daya tahan yang tinggi, kata Akman. Mereka bahkan sering punya daya tahan lebih kuat daripada orang dewasa. Mereka juga lebih mudah beradaptasi lagi dengan kehidupan biasa, karena mereka belum terlalu menyadari dampak peperangan. "Anak-anak sangat terbuka pada perubahan. Yang penting adalah dukungan keluarga."

Karena itu, BBZ juga menawarkan berbagai kursus untuk pengungsi dewasa. Mohammad sekarang belajar bahasa Turki dan Inggris. Selain itu ada pelatihan sepakbola, kursus teater dan banyak program lain.

Tempat pertemuan

Pusat pendidikan BBZ dikelola oleh organisasi Jerman, DVV International, dibantu oleh LSM Turki. "Di sini orang bisa belajar sesuatu yang berguna bagi masa depannya. Sambil melupakan sedikit pengalaman perang mereka"; kata Erdem Vardar dari DVV International.

BBZ baru dibuka pertengahan Agustus lalu. Tapi sekarang sudah ada 200 orang yang mendaftar. Tempat pertemuan dan pelatihan ini dibiayai oleh Kementerian Bantuan Pembangunan Jerman. "Pendidikan dan konsultasi psikologi perlu waktu lama", kata Vardar. Di sekitar Kirikhan ada banyak LSM yang memberi bantuan makanan dan obat-obatan kepada pengungsi. "Tapi pengungsi juga perlu tempat pertemuan, di mana mereka bisa berbicara dengan yang lain".

Mohammad sekarang merasa lebih tenang. "Saya sudah belajar menenangkan anak lelaki dan perempuan saya. Saya lebih sering memeluk mereka dan harus tetap tenang", katanya sambil tersenyum.

http://www.dw.de/trauma-pengungsi-anak-anak-dari-suriah/a-17056216

Kebangkitan Pendidikan Indonesia

Kapha Aceh
Oleh : Arbai
Kamis, 5 September 2013

Membenahi secara berkesinambungan sistem pendidikan yang telah berjalan haruslah menjadi satu agenda utama pemerintahan yang sedang berkuasa. Karena, sejatinya pendidikan bukanlah melulu sekadar memberikan keterampilan kepada anak didik untuk pemenuhan kebutuhan dasar (pangan, papan dan sandang) melalui pelatihan. Pendidikan juga bukan sekedar mengajarkan anak benar atau salah. Namun, lebih dari itu pendidikan adalah sebuah strategi membangun sebuah peradaban bangsa dengan cara memberikan kesadaran moral dan nilai bagi kehidupan anak ke depan. Pendidikan adalah proses investasi jangka panjang dalam bentuk human investment, modal penting dalam pembangunan suatu bangsa. Perselingkuhan antara kekuasaan dan kapitalisasi pendidikan mengarah pada kecenderungan politisasi pendidikan. 

Akibatnya, pendidikan lepas dari fungsi utama dan akhirnya terkebiri tujuan pendidikan itu sendiri. Memosisikan pendidikan sebagai sebuah strategi pembangunan peradaban bangsa berarti proses ini melibatkan seluruh elemen masyarakat. Pendidikan bukan hanya urusan sekolah, tetapi juga keluarga, organisasi atau perkumpulan sosial dan masyarakat. (Mushthafa, 2013: 10) Pendidikan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, harus ada partisipasi berbagai kalangan untuk menggapai cita-cita mulia pendidikan. Masyarakat dan tokoh-tokoh yang didukung rakyat telah menyadari pentingnya fungsi pendidikan itu. Bahwa pendidikan adalah hak seluruh rakyat Indonesia telah termaktub dalam UUD 1945. Bangsa Indonesia sudah bertekad bulat untuk membawa Indonesia keluar dari belenggu pendidikan.

Perjalanan panjang yang telah ditempuh dalam membangun pendidikan berkeadaban telah menunjukkan titik terang dan harapan baru. Namun, masih juga ada kesemrawutan dan hal-hal yang harus dibenahi berkaitan pengelolaan pendidikan yang bebas dari berbagai kepentingan. Kurikulum 2013, yang menarik ditelisik, mengapa saat anggaran dalam APBN yang begitu besar tercurah pada pendidikan, pada saat itu pula mutu pendidikan tidak semakin membaik? Kualitas pendidikan cenderung stagnan dan bahkan banyak terjadi penyelewengan hingga membuat para pemerhati pendidikan gelisah. Kegelisahan tentang pengelolaan pendidikan ini telah berulang kali disuarakan. Beragam pendapat menyuarakan bahwa pendidikan kita akhir-akhir ini cenderung dicemari kebijakan 'liar'.

Ada tarik-menarik kepentingan dan campur aduk kepentingan politik praktis dalam kebijakan pendidikan. Terlalu banyak campur tangan yang bermain dalam kebijakan. Seperti, yang saat ini diributkan, Kurikulum 2013. Ada kesan pemaksaan bahwa Kurikulum 2013 harus diterapkan, sebagai buah karya pemerintahan dalam upaya membuat perubahan. Lalu, pendidikan kita sering kali juga dicemari pemikiran kotor yang tujuannya bukan murni untuk memajukan pendidikan itu sendiri. Namun, ditengarai sebagai lahan basah untuk 'bancakan' korupsi. Seperti dikutip di media massa bahwa objek korupsi terbesar dana pendidikan ada pada dana alokasi khusus yang ditransfer ke daerah dan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Jadi inilah mengapa mutu pendidikan kita tidak beranjak maju atau stagnan. Karena, berbagai pihak yang telah diserahi tugas sebagai orang yang berkewajiban menggelola pendidikan lebih tertarik membicarakan uang atau proyek daripada bagaimana meningkatkan mutu pendidikan itu sendiri. Maka, tidaklah salah jika pendidikan kita terus terlilit masalah. Tidak cukup hanya sampai di situ, para pihak yang diserahi tugas mengelola pendidikan apabila dituding gagal dalam mengangkat mutu pendidikan akan melakukan pembelaan diri. Dengan berbagai cara, satu di antaranya dengan berwacana. Namun, sayangnya wacana tetaplah wacana tanpa ada realisasinya.

Tak heran kalau Mohammad Abduhzen menyebutnya orang seperti ini tergolong hipokrit karena mereka bertindak tidak sesuai ucapan: berbicara hal baik, tetapi tidak mempraktikkannya (Pendidikan Kaum Hipokrit). Melihat kondisi pendidikan kita sekarang ini, maka dibutuhkan kemampuan yang handal dan terampil, disertai niat ikhlas untuk bekerja dalam mengelola pendidikan. Agar kebijakan yang dibuat benar-benar sesuai peruntukkannya. Termasuk didalamnya pengelolaan anggaran pendidikan. Sehingga sasaran kegiatan pendidikan akan tercapai dan terarah. Artinya, diperlukan orang-orang yang mampu menciptakan public value, meminjam istilahnya Bryson (2004) yang berupaya menghasilkan inisiatif, kebijakan dan program untuk memajukan pendidikan dengan biaya yang logis. Public value juga berarti perubahan yang dilakukan oleh institusi pengelola pendidikan untuk memberikan efek atau dampak di masa depan dan lebih baik. Kemudian, program pengembangan kebijakan pendidikan hendaknya juga lebih bersifat antisipatif, yaitu pendidikan yang bisa menjawab tantangan masa depan.

Agar generasi emas yang telah dicita-citakan tidak terseok-seok dalam mengarungi derasnya kompetisi di masa datang. Kebijakan yang antisipatif dan mampu menjawab kebutuhan ke depan bisa terealisasi jika ada komitmen yang kuat dari pemegang otoritas pendidikan dengan didukung oleh berbagai kebijakan yang fokus dan konsisten. Sebagai penutup, jika pemerintahan saat ini ingin dikenang dengan manis dalam catatan sejarah dan ingatan masyarakat maka berbuatlah yang terbaik bagi pendidikan. Inilah saatnya untuk bangun dari tidur panjang dan keluar dari keterpurukkan.

Penulis adalah pendidik, penerima beasiswa S2
Kemendiknas di MM UGM, program studi Manajemen Kepengawasan
dan Kependidikan.

Di Sabang Siswa Baru Disodori Formulir Isian Alat Kelamin dan Ukuran Payudara

Kapha Aceh
Kamis, 5 September 2013 | 10:32:56

Para orang tua siswa baru di SMP Negeri 1 Kota Sabang, Aceh, terperanjat saat mendapatkan formulir isian tentang data kesehatan anaknya.


Pasalnya, dalam formulir tersebut, ada daftar isian tentang ukuran kelamin dan payudara siswa. Salah seorang orang tua siswa Nurlina mengatakan, dirinya semula tidak mencermati formulir tersebut. Kemudian, anaknya yang baru masuk ke SMP Negeri 1 Sabang, menjelaskan soal formulir yang diberikan guru saat mata pelajaran Matematika. "Dia tunjukkan sama saya formulirnya, dan bilang tidak mengerti cara mengisinya. Waktu saya lihat, saya cukup terkejut karena ada gambar-gambar alat kelamin dan payudara," katanya , Rabu 4 September 2013.

Formulir tersebut diberikan kepada anaknya, Selasa 3 September 2013, dan harus diserahkan kemarin. Namun, karena belum diisi, formulir itu tidak dikembalikan ke sekolah. "Saya belum sempat tanya ke sekolah. Memang hari ini dikumpulkan." "Tapi, tidak diisi jadi tidak diserahkan. Saya sudah cek ke orang tua siswa dari kelas yang lain, dan mereka juga mengaku mendapatkan for mulir yang sama," ungkap Nurlina. Menurut dia, ada satu halaman formulir yang bergambar contoh payudara, kelamin perempu an, dan kelamin laki-laki. Ma - sing-masing ada empat nomor dari gambar tersebut, dari ukur - an terkecil hingga ukuran ter be - sar.

Siswa disuruh melingkari salah satu nomor sesuai bentuk tubuhnya. Formulir tersebut terdiri atas enam halaman. Di halaman awal tertulis formulir itu berjudul Kuesioner Penjaringan Kesehatan Peserta Didik Sekolah Lanjutan dan masuk kategori Rahasia. Kemudian ada tulisan puskesmas di sudut kiri atas. "Sangat tidak etis kalau sampai mempertanyakan ukuran organ vital, untuk apa itu," ujarnya.

Dalam formulir yang di peroleh , pada bagian empat merupakan isian tentang kesehatan reproduksi. Pada bagian isian untuk peserta didik putri, ditanyakan perihal menstruasi dan keputihan. Di bawah pertanyaan itu terdapat gambar ukuran payudara dan alat kelamin perempuan. Sementara pada bagian isian untuk peserta didik putra, terdapat pertanyaan apakah pernah mimpi basah dan apakah pernah mengalami gatal-gatal di sekitar kemaluan berikut gambar-gambarnya.

Ketua Komite Sekolah SMP Negeri 1 Sabang, Iskandar mengatakan, dirinya tidak mengetahui persoalan itu. Dia pun terkesan menolak memberikan keterangan. "Saya tak mau banyak berkomentar, tanya pihak se kolah saja," ujarnya sambil menutup telepon. Sementara Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sabang, Ali Imran membenarkan adanya hal tersebut. Namun, dia mengaku ti dak tahu menahu formulir itu sampai ke sekolah di Sabang. "Saya belum tahu soal itu. Saat ini masih dicek jajaran saya karena saya masih mengikuti pendidikan di Bogor (Jawa Barat)," katanya.

Di tempat terpisah, Sekretaris Dinas Kesehatan Sabang, Rajuddin membenarkan bahwa formulir isian tersebut berasal dari Puskesmas Cot Bau Sabang, karena SMP Negeri 1 Sabang berada di wilayah kerja puskesmas tersebut. "Itu kuesioner penjaringan informasi kesehatan yang sudah ada pada tahun sebelumnya. Tapi, tahun lalu tidak ada protes. Maksud formulir ini supaya anak didik didapatkan info kesehatannya secara lengkap. Ini khusus untuk siswa baru saja," katanya.

Formulir tersebut berasal dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Aceh. Untuk siswa baru di tingkat SMA juga mendapatkan formulir yang sama. "Mungkin belum dibagi saja. Namun, dengan adanya protes dari para orang tua ini, kami akan mencari solusi agar bisa diselesaikan. Saat ini saya belum bisa beri jawaban," ungkapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Sabang, Misman juga meng aku tidak tahu soal formulir isian tersebut. Dia masih mengecek kepihak sekolah.

http://m.eksposnews.com/content/60395